Breaking News

Mulia Karena Menolak Jabatan

 Sabtu, 19 Dzulhijjah 1436 H - 03 Oktober 2015

Di usianya yang semakin sepuh Utsman bin Affan radhiallahu anhu kerap terserang penyakit. Karena khawatir akan kematiaannya, maka Sahabat Nabi Shallahu Alaihi Wassalam yang saat itu menjabat khalifah ini menyuruh pembantunya yang bernama Humran untuk menulis wasiat. Isi wasiat itu terkait suksesi kepemimpinan sepeninggalnya.


Dalam wasiat itu Utsman radhiallahu'anhu menunjuk Abdurrahman bin Auf radhiallahu'anhu untuk menggantikannya. Humran pun segera menemui Abdurrahman. Humran berkata, "Kabar gembira untukmu, wahai Abdurrahman."

"Apa yang kau maksudkan?" kata Abdurrahman bin Auf radhiallahu'anhu.

"Sesungguhnya Utsman telah berwasiat bahwa khalifah penggantinya adalah engkau," kata Humran.

Bukannya bergeembira, tapi Abdurrahman langsung berdiri sambil berdo'a, "Ya Allah, jika hal ini memang berasal dari Utsman, maka wafatkanlah aku sebelum terjadi." (Siyar A'laminnubala,' 1/102)

Do'a yang dibacakan Abdurrahman bin Auf radhiallahu'anhu bukanlah basa-basi atau retorika politik pencitraan. Do'a Shabata yang piawai berbisnis ini justru menggambarkan suasana hatinya yang tiba-tiba gusar dan gelisah mengetahui dirinya hendak didaulat menjadi pemimpin. Allah pun mengambulkan do'a Shahabat yang mulia ini. Enam bulan setelah kejadian itu ia pun dipanggil Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Satu pertanyaan yang akan muncul, apa sebenarnya yang mendorong Shahabat yang satu ini berani memilih sikap seperti itu? Bukankah jabatan bisa juga dijadikan sarana untuk berbuat kebajikan? Apalagi kala itu syariat Islamlah yang menjadi pedoman sehingga peluang berbuat kebajikan terbuka lebar.

Dari sisi kemampuan beliau tidak diragukan. Selain pengusaha sukses juga memiliki jam terbang tinggi dalam urusan politik. Beliau termasuk salah seorang yang ditunjuk oleh Umar radhiallahu'anhu untuk memusyawarahkan siapa yang menjadi khalifah setelahnya. Dan kala itu Abdurrahman sepakat mengangkat Utsman bin Affan radhiallahu'anhu sebagai Khalifah.

Nampaknya, untuk urusan kekuasaan dan jabatan para Shahabat mempunyai hitungan yang lebih jeli. Para Shahabat lebih tenang jika memotret jabatan dari potensi ancaman yang ada di dalamnya. Jika membaca Hadits tentang jabatan, memang jabatan akan menjadi sesuatu yang sangat menakutkan.

Contoh Sabda Nabi Shallahu Alaihi Wassalam berikut:

"Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan, padahal kelak akan di hari Kiamat ia akan menjadi penyesalan." (Riwayat Bukhari no. 7148)

Amir bin Sa'ad pernah berkata kepada bapaknya, Sa'ad bin Abi Waqqash radhiallahu'anhu, "Wahai Ayahku, kenapa engkau lebih memilih berada di pelosok bersama kambing-kambingmu sementara orang sedang membincangkan kekuasaan di kota Madinah?"

Sa'ad radhiallahu'anhu berkata, "Sesungguhnya, aku peernah mendengar Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam bersabda, 'Sesungguhnya Allah mencintai hambanya yang bertakwa, berkecukupan dan menyembunyikan popularitasnya." (Siyar A'laminnubala', 1/81)

Memang dalam jabatan ada kemudahan dan keuntungan duniawi yang secara asal mubah untuk diambil dan dimanfaatkan. Tapi bagi seorang Muslim terlalu hina rasanya jika kekuasaan itu dipandang dari sudut kenikmatan duniawi saja. Jika kekuasaan disorot dari sisi negatifnya, maka ambisi kita akan padam dengan sendirinya.

Bahkan dalam tingkatan tertentu kita akan menjadi takut dengan jabatan. Tingkat inilah yang dicapai para salafussaleh. Mereka mengasingkan diri dan sebagian lagi menghadap langsung untuk menyatakan ketidaksiapannya menerima jabatan. Mereka khawatir keimanan dan kesalehannya tergerus oleh fitnah kekuasaan itu.

Ketika Yazid bin Muhallab menjadi Gubernur di Khurasan, ia mengatakan kepada stafnya, ‘Carikan untukku seorang lelaki yang sempurna perilaku dan karakternya.”

Mereka pun menyebut nama Abu Burdah al-Asya’ri. Lalu sang Gubernur segera menemui Abu Burdah. Betul apa yang dikatakan stafnya. Bahkan ia melihat sosok Abu Burdah jauh lebih baik dari yang didengarnya sehingga sang Gubernur langsung mengangkatnya menjadi pejabat.

Tapi apa yang terjadi? Abu Burdah menolaknya dan berkata, “Tidakkah aku kabarkan kepadamu Hadits Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam, ‘Siapa yang memikul satu pekerjaan padahal ia tahu dirinya bukan ahli dalam pekerjaan itu maka siapkanlah baginya Neraka, dan aku bersaksi bahwa aku tidak ahli pada jabatan yang engkau berikan.” (Aina Nahnu min Akhlaqissalaf, 39)

Pisau Bermata Dua

Menjadi pejabat atau penguasa seperti pisau bermata dua. Ia merupakan sebab meraih fadhilah dan menjadi sarana yang mengantarnya ke surge, tapi disaat yang sama juga bisa menjerumuskan ke Neraka.

Jika kekuasaan itu dijalankan sesuai syariat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka tentu akan mengantarkan ke Surga.

Tapi jika sebaliknya, maka kita yakin jabatan itu akan menjadi sarana yang melancarkan perjalanan kita ke Neraka.

Wajar jika Nabi Shallahu Alaihi Wassalam tidak terlalu memotivasi umatnya untuk menjadi penguasa. Bahkan beliau Shallahu Alaihi Wassalam justru mewanti-wanti umatnya agar menjauhi kekuasaan.

Beliau Shallahu Alaihi Wassalam pernah berpesan kepada Shahabatnya, Abu Dzar Radhiallahu’anhu; “Wahai Abu Dzar, engkau seorang yang lemah sementara kepemimpinan itu adalah amanat.

Dan nanti pada hari Kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan kecuali orang yang mengambil dengan haknya dan menunaikan apa yang seharusnya ia tunaikan dalam kepemimpinan tersebut.” (Riwayat Muslim no. 1825)

Abu Dzar Radhiallahu’Anhu adalah Shahabat yang sangat Zuhud. Namun Zuhud yang dimilikinya belum mencukupi untuk menjadi penguasa. Kekuatan jiwa mesti ada untuk menegakkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar serta butuh keberanian untuk tidak mencampuradukkan yang hak dan yang batil.

Menolak Lebih Selamat

Saat ini kita berada di zaman yang orang-orang di dalamnya sebagian salah kaprah dalam melihat jabatan. Mereka mengira dengan jabatan ia akan dihormati, kekayaan dan kenikmatan duniawi lainnya bisa disergap.Akhirnya mereka pun berebut untuk menjadi pejabat.

Perebutan kekuasaan saat ini sejatinya adalah lautan fitnah yang tidak bertepi. Syaikh Shalih al-Munajjid berkata; “Di antara yang merusak keikhlasan hati dan memperkuat keterkaitannya dengan dunia dan berpaling dari akhirat adalah cinta kekuasaan.

Ia penyakit berbahaya; uang dihamburkan, permusuhan terjadi, pertumpahan darah antara bapak dengan anaknya tak terelakkan. Karenanya, ini dikatakan sebagai syahwat khafiyah (syahwwat terselubung).” (Hubbu Arri’asah, Muhammad Shaleh al Munajjid, 5)

Akhirnya kita pun akan memilih, masuk dalam kubangan fitnah atau menghindarinya. Pastikan kita memilih yang kedua. Karena pilihan inilah yang menjamin terjaganya akidah, keistiqamahan dan kesalehan kita. Wallahu a’lam bishowab.

Ahmad Rifa’i

Pengajar  di Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan

Suara Hidayatullah |  September 2012/Syawal 1433 H, Hal 92-93

No comments